Home » » ANAXIMANDROS

ANAXIMANDROS

Written By rizky on Minggu, 15 September 2013 | Minggu, September 15, 2013


BAB II
PEMBAHASAN
a.Riwayat hidup
Anaximandros disebut murid thales termasuk tokoh kedua mazhab milesian sama dengan gurunya. Ia hidup antara tahun 610 -540 SMkees bertens 610-547 SM mohammad hatta ia lebih muda dari 15 tahun dari tales,tetapi meninggal dua tahun lebih dahulu. Sebagai filosof ia lebih besar dari pada gurunya. Ia juga ahli astronomi dan ahli ilmu bumi. anaximandros mengarag sebuah risalah dalam prosa (yang pertama dalm kesusastraan yunani ),tetapi sekarang tinggal satu fragmen saja. Menurut tradisi, ia mempunyai jasa-jasa dalam bidang astronomi dan juga dalam bidang geografi, sebab dialah orang pertama yang membuat suatu peta bumi.usahanya dalam geografi dilanjutkan oleh hekataios, sewarga polis dengan dia. Ia memimpin ekspedisi dari miletos yang mendirikan kota perantauan baru di apollonia di pantai laut hitam. Konon kota
miletos menghormatinya dengan suatu patung. Sama halnya dengan gurunya, Ia juga ingin mencari asal dari segalanya. Anaximander, Thales, dan satu orang lagi yang bernama Anaximenes, merupakan tiga serangkai ahli pikir dari kota Miletos, kota kebanggaan negeri Ionia yang terletak pada pantai barat Asia kecil, atau Turki pada jaman sekarang ini. Berbeda dengan Thales yang merupakan gurunya, Anaximander menyatakan bahwa tidak mungkin segala sesuatu terjadi hanya dari air. Namun dia menolak menyatakan dari bahan apa segala sesuatu terjadi. Tapi menurutnya, segala sesuatu terjadi dari satu bahan yang tak dapat ditentukan, yaitu Apeiron. Menurut John Burnet yang merupakan ahli sejarah filsafat Yunani dari Inggris, mengatakan bahwa Apeiron ialah, “Sesuatu tidak terbatas darimana segala sesuatu terjadi dan kepadanya mereka kembali lagi”. Mungkin yang dimaksud Apeiron disini adalah istilah yang pada masa itu digunakan untuk menyebut Tuhan (selain dewa-dewa), sekalipun Anaximander sendiri tidak mampu menjelaskan apa yang dimaksud dengan Apeiron tersebut. Jika memang benar demikian, maka konsepsi ini tidak salah, seperti konsepsi Thales yang juga sulit dikatakan salah, apalagi setelah pendapat yang sama dikeluarkan oleh Nabi besar Muhammad saw. Satu kata peringatan harus dikeluarkan, bahwa orang Yunani tidak mengenal ajaran tentang penciptaan dunia sebagaimana yang diajarkan pada Agama Islam, bahwa Allah swt menciptakan alam ini dan segala isinya, dari adam ke wujud, dari nothing to being. Tuhan orang Yunani bukanlah Tuhan yang mencipta, melainkan adalah sekedar dewa-dewa yang berkedudukan di puncak gunung Olympus. Mereka tidak berpikiran bahwa alam ini dicipta, melainkan mereka percaya bahwa ada beberapa elemen utama darimana alam ini dibuat, yakni air, api, udara, dan tanah.
Masing-masing elemen adalah abadi, namun pada kenyataannya terjadi pertarungan antara keempat elemen tersebut yang masing-masing mencoba untuk “meluaskan wilayahnya”. Namun dipihak lain, orang Yunani percaya bahwa ada hukum alam yang selalu memegang keseimbangan antara elemen-elemen yang bertarung, misalnya, setiap ada api pasti timbul abu yang tergolong ke dalam tanah. Mungkin, dengan Apeiron, Anaximander ingin mengatakan bahwa, bukan dari bahan ini atau itu alam ini dibuat, melainkan dari bahan lain, yang tentunya bebas dan tidak terlibat dalam pertarungan kosmos ini.
Ia adalah seorang sarjana yang cakap yang lahir sebelum genap waktu kandungannya, maka dari itu karyanya tidak begitu diakui oleh dunia. Anaximander adalah bapak teori evolusi, karena ia tidak mengenal ajaran Islam atau Kristen, tidak pula mengenal ajaran Hindu. Baginya alam adalah belantara keabadian dalam mana dunia kita juga berada, tidak ada penciptaan dan pemusnahan, yang ada hanya gerak, evolusi dan perkembangan abadi, dan dunia yang ada adalah salah satu perwujudannya.
b.  AJARAN

1.      BIDANG ASTRONOMI
Menurutnya, dunia kita terletak di tengah- tengah alam semesta ini: berbentuk seperti silinder, di sekitarnya ada lingkaran- lingkarang cincin (berwujud seperti selang) yang penuh berisi api, dan selang- selang itu berlobang-lobang. Lewat lobang inilah kita bisa melihat api di dalam cincin-cincin tersebut. Itu makanya, bintang-bintang, bulan, matahari adalah “lobang lewat mana” kita bisa mengetahui adanya cincin-cincin di langit itu. Yang terpenting dari sistem yang diajukan Anaximandros ini adalah simetri yang ia ajukan: meskipun fenomen di langit tampak tak beraturan, ia menemukan adanya keteraturan. Dan lebih dari itu, simetri itu mengijinkan dirinya menyatakan bahwa dunia kita “tidak bergerak”.
Anaximandros berpendapat bahwa bumi kita tepat berada di tengah-tengah sehingga tidak ada satu alasanpun untuk menjelaskan mengapa ia bergerak ke satu titik daripada titik lainnya. Sama seperti seekor keledai yang berada di antara 2 gundukan jerami di arah berlawanan dengan jarak yang sama, ia akan berhenti, dan mati kelaparan karena tidak pernah memilih arah mana yang mau diambil.


Kematian keledai dan immobilitas bumi kita diterangkan dengan sebuah prinsip yang sekarang kita kenal sebagai  prinsip kecukupan rasio (principe of sufficient reason) :
- Jika tidak ada alasan bahwa X muncul (terjadi) daripada Y (jika tidak ada alasan aku mengambil jalan lurus atau mengambil putaran di depan)
- Jika tidak mungkin bahwa X dan Y muncul (terjadi) bersama-sama (jika tidak mungkin untuk berjalan lurus dan berbelok sekaligus)
- Maka kesimpulannya: baik X maupun Y tidak ada (maka aku tdk jalan lurus dan tidak berbelok, aku diam!)
Prinsip abstrak ini yang kemudian diterapkan Anaximandros kepada astronomi untuk mengatakan bahwa bumi kita diam.
2.      ASAL MULA MANUSIA
Anaximandros mengatakan bahwa tidak mungkin manusia pertama timbul dari air dalam rupa anak bayi. Orang sering mengatakan bahwa Anaximandros menjadi pendahulu teori evolusi spesies-spesies . Berhadapan dengan ragam kehidupan di dunia, ia mencoba mencari dari mana asal-usul semuanya, dan terutama dari mana manusia muncul. Barangkali, karena pengaruh gurunya, Thales, yang mengusulkan physis air sebagai dasar kehidupan, ia lalu mengusulkan bahwa asal-usul mereka adalah  daerah lembab . Lalu bagaimana bisa muncul kuda, kambing, yang semuanya tidak terlalu dekat hidupnya dengan hal-hal lembab ? Maka dibuatlah spekulasi bahwa dulu-dulunya semua berasal dari ikan atau semacam ikan yang dilindungi oleh cangkang. Tentang manusia ? Manusia adalah satu-satunya binatang yang menyusui dalam periode lama untuk akhirnya bisa makan sendiri. Jika demikian, maka manusia pertama pasti tidak demikian, karena jika begitu ia akan cepat mati. Maka diusulkan bahwa manusia pertama dikandung cukup lama dalam binantang semacam ikan, sampai kemudian keluar darinya. Dan baru setelah itu ia bisa berkembang biak sendiri.
3.      PHYSIS ITU BERNAMA APEIRON
Seperti juga gurunya, Anaximandros mencari asal dari segalanya. Ia tidak menerima begitu saja apa yang diajarkan gurunya. Yang dapat diterima akalnya ialah bahwa yang asal itu satu, tidak banyak. Tetapi yang satu itu bukan air. Menurut pendapatnya, barang asal itu tidak berhingga dan tidak berkeputusan. Ia bekerja selalu dengan tiada henti- hentinya, sedangkan yang dijadikannya tidak berhingga banyaknya. Jika benar kejadian itu tidak berhingga, seperti yang lahir kelihatan, maka yang “asal” itu mestilah tidak berkeputusan.
Yang asal itu, yang menjadi dasar alam dinamai oleh anaximandros “Apeiron”. Apeiron itu tidak dapat dirupakan, tak ada persamaannya dengan salah satu barang yang kelihatan di dunia ini. Segala yang kelihatan itu, yang dapat ditentukan dengan panca indera kita, adalah barang yang mempunyai akhir, yang berhingga. Segala yang tampak dan terasa dibatasi oleh lawannya. Yang panas dibatasi oleh yang dingin. Di mana yang bermula dingin, di sana berakhir yang panas. Yang cair dibatasi oleh yang beku, yang terang oleh yang gelap. Dan bagaimana yang berbatas itu akan dapat memberikan sifat kepada yang tidak berkepunyaan?
Simplicius mengatakan bahwa Anaximandros berbicara tentang proses menjadi dan hilangnya alam semesta. Menurutnya, semua terjadi  menurut tatatan waktunya  : artinya, secara teratur, segala hal yang muncul pada waktunya akan dibalas/ditebus. Tanaman tumbuh dan berkembang dari tanah dengan mengambil unsur-unsur dari dalam tanah. Pada waktunya, tanaman akan mati, membusuk dan materinya dikembalikan lagi menjadi tanah. Saat tanaman tumbuh, ia melakukan ketidakadilan kepada tanah karena ia menyerap unsur-unsurnya untuk kehidupannya. Tanaman  mencuri  apa-apa yang diperlukannya dari tanah. Namun, sekali tanaman itu mati dan membusuk, ia menebus (membalas) ketidak adilan yang ia lakukan dengan menjadi unsur-unsur bagi tanah. Hujan jatuh dari udara, lalu air hujan akan diuapkan oleh panas matahari, dan ia akan kembali menjadi udara lagi. Hujan (air) mengambil substansi airnya dari udara, ia  mencurinya dari udara. Setelah jatuh, ia akan diuapkan untuk  menebus kembali  udara. Semua kemunculan dan hilangnya segala sesuatu terjadi menurut aturan yang sudah ditatankan dalam waktu.
Simplicius juga berbicara tentang sebuah physis  bernama ketakterbatasan (apeiron) sebagai asal dan akhir segala sesuatu. Sama seperti Thales gurunya, Anaximandros juga menemukan satu prinsip  : ketakterbatasan. Apeiron ini tidak sama dengan salah satu dari berbagai unsur yang menyusun dunia kita yang kelihatan ini. Alasannya sederhana : karena semua materi yang kita kenal derajatnya sejajar (air menjadi udara, udara menjadi air ; kayu menjadi tanah, tanah menjadi kayu). Tak satu pun unsur dasariah dunia inderawi ini memiliki primasi dibandingkan unsur lain sehingga tidak bisa dikatakan menjadi  prinsip.
Prinsip itulah yang memunculkan alam semesta ini berkat sebuah  gerak abadi  (mengapa harus abadi  gerakan ini ? ya karena gerakan inilah yang memunculkan alam semesta, kalau gerakan ini digerakkan oleh sesuatu , artinya kita harus mencari  sesuatu  yang menggerakkan itu, dan seterusnya tanpa henti. Awal segala sesuatu akhirnya sulit diterangkan. Itu makanya, dipostulatkan – dinyatakan – bahwa gerak ini  abadi ).

Gerakan inilah yang memunculkan  semua langi-langit dan dunia-dunia yang ada di dalamnya”, dan ia tidak pernah berhenti. Gerakan ini terus menerus  memunculkan sesuatu . Dan untuk bisa memunculkan itu, gerakan ini butuh sebuah materi . Karena “materi” yang dibutuhkan akan digerakkan terus untuk senantiasa memunculkan sesuatu, maka “materi” itu haruslah sesuatu yang “tak bisa habis, tak terbatas”.
- Dari “materi dasar” (prinsip) ini lalu muncul: langit-langit dan semua “elemen” yang ada di dunia. Dari situ baru muncullah apa-apa yang kita kenali di dunia ini. Dan semua itu masih dikendalikan oleh gerak abadi tersebut sehingga muncullah  sebah SIKLUS teratur kejadian-kejadian yang semuanya taat pada tatanan waktu.
- Ini semua adalah tafsir  yang belum tentu benar (mengingat sekalilagi minimnya teks, dan sumber yang kita gunakan adalah sumber-sumber yang  jauh  setelah kehidupan Anaximandros sendiri)
C. Pemikiran Anaximandros
1. To Apeiron Sebagai Prinsip Dasar Segala Sesuatu
Meskipun Anaximandros merupakan murid Thales, namun ia menjadi terkenal justru karena mengkritik pandangan gurunya mengenai air sebagai prinsip dasar (arche) segala sesuatu. Menurutnya, bila air merupakan prinsip dasar segala sesuatu, maka seharusnya air terdapat di dalam segala sesuatu, dan tidak ada lagi zat yang berlawanan dengannya. Namun kenyataannya, air dan api saling berlawanan sehingga air bukanlah zat yang ada di dalam segala sesuatu.Karena itu, Anaximandros berpendapat bahwa tidak mungkin mencari prinsip dasar tersebut dari zat yang empiris. Prinsip dasar itu haruslah pada sesuatu yang lebih mendalam dan tidak dapat diamati oleh panca indera. Anaximandros mengatakan bahwa prinsip dasar segala sesuatu adalah to apeiron. To apeiron berasal dari  a=tidak dan eras=bataIa merupakan suatu prinsip abstrak yang menjadi prinsip dasar segala sesuatu. Ia bersifat ilahi, abadi, tak terubahkan, dan meliputi segala sesuatu. Dari prinsip inilah berasal segala sesuatu yang ada di dalam jagad raya sebagai unsur-unsur yang berlawanan (yang panas dan dingin, yang kering dan yang basah, malam dan terang). Kemudian kepada prinsip ini juga semua pada akhirnya akan kembali.
Menurut anaximandros, Aperion itu tidak dapat dirupakan, tidak ada persamaannya dengan salah satu barang yang kelihatan di dunia ini, sebab segala yang kelihatan itu, yang dapat ditentukan rupanya dengan pancaindra kita adalah barang yang mempunyai akhir yang berhingga.
Oleh sebab itu, Aperion adalah barang yang asal, yang tidak berhingga dan tiada berkeputusan itu mustahil bagi salah satu dari barang yang berakhir itu. Segala yang tampak dan terasa di batasi oloh lawannya. Yang panas dibatasi oleh yang dingin. Dimana bermula yang dingin, disana berakhir yang panas. Yang cair dibatasi yang beku. Yang terang dibatasi oleh yang gelap. Bagaimana yang terbatas itu dapat memberikan sifat kepada yang tidak berkeputusan?
Segala yang tampak dan terasa itu, segala yang dapat ditentukan rupanya dengan pancaindra kita, semuanya mempunyai akhir. Ia timbul (jadi), hidup, dan lenyap. Segala yang berakhir berada dalam kejadian senantisa, yaitu dalam keadaan berpisah dari yang satu dengan yang lain.  Yang cair menjadi beku, dan sebaliknya. Yang panas menjadi dingin, dan sebaliknya. Semua itu terjadi dari Apeiron, dan kembali pula ke Apeiron. Oleh karena itu, Apeiron itu bersifat ilahi, abadi tak terubahka dan meliputi segala-galanya.
Kemudian, anaximandreos menerapkan bagaimana dari Apeiron timbul alam semesta. Bermula dari apeiron, keluarlah yang panas dan yang dingin. Yang panas membalut yang dingin sehingga yang dingin itu terkandung di dalamnya. Dari yang dingin itu terjadilah yang cair dan yang beku inilah kemudian menjadi bumi. Api yang membalut yang dingin itu kemudian terpecah-pecah pula, dan pecahan-pecahan itu berputar-putar, dan kemudian terpisah, maka terjadilah matahari, bulan, dan bintang-bintang.
Yang asal itu yang menjadi dasar alam dinamai oleh Anaximandros “Apeiron”. Apeiron itu tidak dapat dirupakan. Tak ada persamaanya, dengan salah satu barang yang kelihatan di dunia ini. Segala yang kelihatan itu yang dapat di tentukan rupanya dengan pancaindera kita, adalah barang yang mempunyai akhir, yang berhingga. Anaximandros mengatakan bahwa dasar utama adalah zat yang tak tertentu sufat-sifanya, yang dinamainya Apeiron. Menurut dia prinsip terakhir itu adalah Apeiron: “yang tak terbatas” (peras=batas). Apeiron itu bersifat ilahi, abadi, tak terubahkan dan meliputi segala-galanya. Kesimpulan filsafat itu antara lain: filsafat alam , yang asal itu tidak berhingga dan tidak berkeputusan, yang asal sebagai dasar alam menurut Anaximandros disebut “Apeiron”. Anaximandros terkenal dengan teori “ first Principle” (asal yang pertama). Asal yang perama itu  dinamakan “apeiron”, kesimpulan teori ini adalah;
1. dari apeiron itulah timbulnya alam
2. apeiron itu tiada berakhir dan tiada berhenti-hentinya bekerja, karena yang dijadikan apeiron itu tidak terhingga banyaknya, sebagai yang kelihatan, sebab itu apeiron harus kekal, tidak berakhir, dan terus bekerja.
3. segala yang kelihatan itu, yakni yang dapat ditangkap oleh pancaindera adalah barang yang berakhir(yang mempunyai batas)sedangkan apeiron tidak.
4.segala yang dapat dilihat dan diraba itu selalu dalam perubahan dan kejadian. Ia jadi dan hidup, kemudian mati dan lenyap, sedangkan apeiron tidak.

2. Pandangan tentang Alam Semesta
Dengan prinsip to apeiron, Anaximandros membangun pandangannya tentang alam semesta. Menurut Anaximandros, dari to apeiron berasal segala sesuatu yang berlawanan, yang terus berperang satu sama lain. Yang panas membalut yang dingin sehingga yang dingin itu terkandung di dalamnya. Dari yang dingin itu terjadilah yang cair dan beku. Yang beku inilah yang kemudian menjadi bumi. Api yang membalut yang dingin itu kemudian terpecah-pecah pula. Pecahan-pecahan tersebut berputar-putar kemudian terpisah-pisah sehingga terciptalah matahari, bulan, dan bintang-bintang. Bumi dikatakan berbentuk silinder, yang lebarnya tiga kali lebih besar dari tingginya. Bumi tidak jatuh karena kedudukannya berada pada pusat jagad raya, dengan jarak yang sama dengan semua benda lain. Mengenai bumi, Thales telah menjelaskan bahwa bumi melayang di atas lautan. Akan tetapi, perlu dijelaskan pula mengenai asal mula lautan. Anaximandros menyatakan bahwa bumi pada awalnya dibalut oleh udara yang basah. Karena berputar terus-menerus, maka berangsur-angsur bumi menjadi kering. Akhirnya, tinggalah udara yang basah itu sebagai laut pada bumi.
Adapun bumi pada awalnya dibalut dengan uap yang basah karena berputar terus menerus, yang basah itu secara berangsur-angsur, menjad kering, akhirnya tinggallah sisa uap yang basah itu sebagai laut pada bumi.
Sebagai filosof, ia mempunyai pandangan bahwa alam adalah satu, tetapi prinsip dasar tentang alam tersebut bukan dari jenis benda alam seperti air sebagaimana yang dikatakan gurunya. Prinsip dasar alam berasal dari jenis yang tak terhitung dan tak terbatas, yang di sebutnya apeiron.
Demikianlah kesimpulan hukum dunia menurut pandangan anaximandros. Disitu tampak kelebihannya dari pada gurunya. Selagi thales berpendapat bahwa barang yang asal itu salah satu dari yang lahir, yang tampak, yang berhingga, anaximandros meletakkannya di luar alam yang memberikan sifat yang tiada berhingga padanya dengan tiada dapat di serupai.
Meski teori tentang asal alam tidak begitu jelas, dia adalah seorang yang cakap dan cerdas.
3. Pandangan tentang Makhluk Hidup
Mengenai terjadinya makhluk hidup di bumi, Anaximandros berpendapat bahwa pada awalnya bumi diliputi air semata-mata. Karena itu, makhluk hidup pertama yang ada di bumi adalah hewan yang hidup dalam air, misalnya makhluk seperti ikan.Karena panas yang ada di sekitar bumi, ada laut yang mengering dan menjadi daratan.Di ditulah, mulai ada makhluk-makhluk lain yang naik ke daratan dan mulai berkembang di darat. Ia berargumentasi bahwa tidak mungkin manusia yang menjadi makhluk pertama yang hidup di darat sebab bayi manusia memerlukan asuhan orang lain pada fase awal kehidupannya. Karena itu, pastilah makhluk pertama yang naik ke darat adalah sejenis ikan yang beradaptasi di daratan dan kemudian menjadi manusia.
Mengenai terjadinya makhluk dibumi, anaximandros menerangkan bahawa atas pengaruh yang panas tersebut, dari uap yang basah dibumi itu terjadilah makhluk-makhluk hidup, yang kemudian secara bertingkat-tingkat mengalami kemajuan dalam hidupnya. Pada mulanya, bumi ini diliputi oleh air semata-mata. Oleh sebab itu, makhluk yang pertama diatas bumi ialah hewan yang hidup didalam air seperti ikan. Akan tetapi, setelah tanah semakin kering, timbullah daratan maka makhluk yang lain mulai berkembang diatas daratan.
Mengenai manusia, anaximandros mengatakan bahwa dari binatang yang berupa ikan tulah terjadi manusia yang pertama. Manusia bermula tidak bsa serupa dengan manusia sekarang, sebab orang yang dilahirkan dalam bentuk bayi sekarang memerlukan asuhan orag lan. Makhluk seperti itu tidak bisa hidup pada permulaan penghidupan diatas dunia ini. Satu-satunya yang bisa menolong dirinya sendirisejak lahir hanyalah binatang berupa ikan.
Anaximandros mengatakan bahwa segala hal berasal dari subtansi asali, namun subtansi itu bukan air seperti yang di yakini thales,atau subtansi lain manapun yang kita ketahui. Substansi itu tidak terbatas, abadi dan tidak mengenal usia, dan “ia melingkupi seluruh dunia-dunia “ sebab Anaximandros beranggapan bahwa dunia kita ini hanyalah salah satu dari banyak dunia. Subtansi asali itu diubah menjadi berbagai subtansi yang kita kenal, da subtansi-subtansi  itu saling ditransformasikan menjadi substansi yang satu atau yang lain. Mengenai hal ini, ia mengutarakan pernyatan penting  dan perlu di simak :
“ untuk menjadi sesuatu yang darinya segala sesuatu lainnya meningkatkan diri, substansi-substansi itu harus musnah sekali lagi, sebagaimana sudah di takdirkan, sehingga bisa menyempurkan dan memuaskan satu sama lain berdasarkan ketidak adilannya, sesuai dengan pengaturan waktu. ”
Gagasan tentang keadilan, baik yang sifatnya kosmis maupun manusiawi ,memainkan peranan dalam agama dan filsafat  yunani yang tidak sepenuhnya mudah dipahami oleh orang modern;bahkan istilah “keadilan” yang kita pakai nyaris tak mampu mengungkapkan maksudnya, tetapi sukar untuk menemukan kata lainnya yang lebih memadai . pemikiran yang diungkapkan anaximandros  kurang lebih demikian : mestinya ada api, tanah, dan air dalam takaran tertentu di dunia, namun masing-masing unsur itu(yang dikonsepsikan sebagai dewa) terus-menerus berupaya memperbesar kerajaannya sendiri. Tetapi ada semacam peniscayaan atau hokum alam yang senan tiasa mengembalikan keseimbangan; jikalau telah ada api, umpamanya, tentu ada abu, yang tak lain adalah tanah. Konsepsi tentang keadilan yakni tidak dilampauinya batas-batas tertentu yang abadi adalah salah satu keyakinan orang yunani yang paling mendalam. Dewa-dewa, pun tunduk pada keadilan persis sebagaimana manusia namun kekuatan agung itu pada dirinya sendiri tidak bersifat personal, dan bukan pula tuhan yang maha kuasa.
Anaximandros memiliki argument untuk membuktikan bahwa substansi asali itu bukan air, atau unsur lain manapun yang dikendali. Jika salah satu substansi itubersifat asali maka maka substansi itu akan mengalahkan yang lain. Menurut aristoteles anaximandros mengatakan bahwa unsur-unsur yang telah dikenal itu saling beroposisi. Udara bersifat dingin air basah dan api panas.”dan karena itu, jikasalah satu substansi itu asali, substansi lain tentu sudah punah saat ini “.substansi asali,dengan demikian, harus bersifat netral ditengah perselisihan kosmes ini .
Berlangsung pula suatu gerak abadi, yang dalam proses itumuncullah asal usul dunia-dunia, dunia itu tidak diciptakan, seprti dalam teologi yahudi atau Kristen, namun lahir karena evolusi. Dalam dunia binatang pun terjadi evolusi. Mahluk hidup muncul dari unsur bahasa yang kemudian menguap karena matahari. Manusia, sebagai mana binatang lain berasal dari ikan. Menusia pasti berasal dari jenis binatang yang berbeda karena mengingat masa bainya yang berlangsung lama, sejak semula ia tentu tak akan mampu bertahan hidup seperti halnya sekarang.
Anaximandros memiliki keingin tauan ilmiah yang besar.ia konon adalah orang pertama yang membuat peta.ia berpendapat bahwa bumi berbentuk seperti silinder. Sering dikisahkan pernyataan bahwa ,matahari sama besarnya dengan bumi, tau dua puluh tuju kali atau dua puluh delapan kali lipat besarnya.Selain orisinel ,anaximandros berwatak ilmiah dan rasionalistik.


41. Asal Mula Kehidupan
Mengenai asal mula keehidupan, Anaximandder juga menjelaskan evolusi makhluk   hidup yang berasal dari lautan yaitu ikan. Pemikiran ini didasarkan pada bahwa tidaak mungkin  seorang manusia adalah makhluk pertama yang hidup karena manusia memerlukan        pengasuhan pada awal kelahirannya. Oleh karena itu Anaximander mempercayai bahwa     makhluk hidup pertama adalah ikan yang kemudian naik ke daratan. Dan kemudian mengalami   proses yang pada  akhirnya berevolusi menjadi manusia.
Disini Anaximander menjelaskan bahwa bumi awalnya berupa lautan,oleh karena itu makhluk yang hidup disana adalah ikan. Karena panas matahari, sebagain dari bumi mongering dan menjadi daratan. Makhluk hidup ini kemudian berpindah ke daratan dan lambat laun mengalami perubahan hingga menjadi sosok manusia yang sempurna. Tentu saja bagi kita pemikiran ini terasa amat ganjil, namun yang patut kita apresiasi adalah bagaimana ia bisa   memikirkan hal demikian. Filsuf alam menitikberatakan pada apa yang ia amati disekitar lingkungannya. Anaximander pun sama, dengan berbagai penjelajahan yang ia lakukan, ia pun menyadari bahwa lautan di bumi ini luas sehingga pastilah dulunya bumi berupa lautan. Dan pengamatannya terhadap pertumbuhan dan perkembangan manusia membuatnya menarik kesimpulan bahwa bukan manusia yang menjadi makhluk pertama atau asal dari kehidupan ini, karena ketergantungan manusia terhadap manusia lainnya.
5.      Bidang Meteorologi
Anaximander juga termasuk orang yang kritis menanggapi hal-hal yang berhubungan dengan mitos, pengetahuan kuno, surga bahkan dewa-dewi Yunani. Seperti yang kita ketahui bahwa Yunani amat kental dengan mitologi dewa-dewinya. Namun disini Anaximander   mempertanyakan semua hal-hal yang berkaitan dengan kisah-kisah mitologi apalagi yang berkaitan dengan alam.
Seperti halnya pada bidang meteorology. Anaximander menyatakan   bahwa petir bukanlah disebabkan oleh Zeus sang raja para dewa yang mengarahkan trisulanya atau tongkat petirnya, tapi karena pneuma atau udara yang memadat.
Selain itu Anaximander juga menjelaskan bahwa hujan berasal dari uap yang dibawa ke atas tepat dibawah matahari. Bukan   karena   hal-hal   yang   berhubungan dengan mitologi dan kekuatan dewa. Namun memang ada sebab dan prosesnya, dan semua itu juga terjadi secara natural.
Tulisan Anaximander mengenai cuaca dan bidang meteorology ini merupakan catatan pertama manusia yang menjelaskan fenomena cuaca berdasarkan pemikiran rasinonal manusia bukan dari legenda taupun mitos.

Share this article :

0 komentar:

Posting Komentar

 
Support : Facebook | blog ku | Twitter
Copyright © 2013. Jalani Hidup Apa Adanya - All Rights Reserved
Proudly powered by Blogger