BAB II
PEMBAHASAN
a.Riwayat
hidup
Anaximandros disebut murid thales termasuk tokoh kedua mazhab
milesian sama dengan gurunya. Ia hidup antara tahun 610 -540 SMkees
bertens 610-547 SM mohammad hatta ia lebih muda dari 15 tahun
dari tales,tetapi meninggal dua tahun lebih dahulu. Sebagai filosof ia lebih
besar dari pada gurunya. Ia juga ahli astronomi dan ahli ilmu bumi.
anaximandros mengarag sebuah risalah dalam prosa (yang pertama dalm
kesusastraan yunani ),tetapi sekarang tinggal satu fragmen saja. Menurut
tradisi, ia mempunyai jasa-jasa dalam bidang astronomi dan juga dalam bidang
geografi, sebab dialah orang pertama yang membuat suatu peta bumi.usahanya
dalam geografi dilanjutkan oleh hekataios, sewarga polis dengan dia. Ia
memimpin ekspedisi dari miletos yang mendirikan kota perantauan baru di
apollonia di pantai laut hitam. Konon kota
miletos menghormatinya dengan suatu
patung. Sama halnya dengan gurunya, Ia juga ingin mencari asal dari segalanya. Anaximander,
Thales, dan satu orang lagi yang bernama Anaximenes, merupakan tiga serangkai
ahli pikir dari kota Miletos, kota kebanggaan negeri Ionia yang terletak pada
pantai barat Asia kecil, atau Turki pada jaman sekarang ini. Berbeda dengan
Thales yang merupakan gurunya, Anaximander menyatakan bahwa tidak mungkin
segala sesuatu terjadi hanya dari air. Namun dia menolak menyatakan dari bahan
apa segala sesuatu terjadi. Tapi menurutnya, segala sesuatu terjadi dari satu
bahan yang tak dapat ditentukan, yaitu Apeiron. Menurut John Burnet yang
merupakan ahli sejarah filsafat Yunani dari Inggris, mengatakan bahwa Apeiron
ialah, “Sesuatu tidak terbatas darimana segala sesuatu terjadi dan kepadanya
mereka kembali lagi”. Mungkin yang dimaksud Apeiron disini adalah istilah yang
pada masa itu digunakan untuk menyebut Tuhan (selain dewa-dewa), sekalipun
Anaximander sendiri tidak mampu menjelaskan apa yang dimaksud dengan Apeiron
tersebut. Jika memang benar demikian, maka konsepsi ini tidak salah, seperti
konsepsi Thales yang juga sulit dikatakan salah, apalagi setelah pendapat yang
sama dikeluarkan oleh Nabi besar Muhammad saw. Satu kata peringatan harus
dikeluarkan, bahwa orang Yunani tidak mengenal ajaran tentang penciptaan dunia
sebagaimana yang diajarkan pada Agama Islam, bahwa Allah swt menciptakan alam
ini dan segala isinya, dari adam ke wujud, dari nothing to being. Tuhan orang
Yunani bukanlah Tuhan yang mencipta, melainkan adalah sekedar dewa-dewa yang
berkedudukan di puncak gunung Olympus. Mereka tidak berpikiran bahwa alam ini
dicipta, melainkan mereka percaya bahwa ada beberapa elemen utama darimana alam
ini dibuat, yakni air, api, udara, dan tanah.
Masing-masing
elemen adalah abadi, namun pada kenyataannya terjadi pertarungan antara keempat
elemen tersebut yang masing-masing mencoba untuk “meluaskan wilayahnya”. Namun
dipihak lain, orang Yunani percaya bahwa ada hukum alam yang selalu memegang
keseimbangan antara elemen-elemen yang bertarung, misalnya, setiap ada api
pasti timbul abu yang tergolong ke dalam tanah. Mungkin, dengan Apeiron,
Anaximander ingin mengatakan bahwa, bukan dari bahan ini atau itu alam ini
dibuat, melainkan dari bahan lain, yang tentunya bebas dan tidak terlibat dalam
pertarungan kosmos ini.
Ia adalah
seorang sarjana yang cakap yang lahir sebelum genap waktu kandungannya, maka
dari itu karyanya tidak begitu diakui oleh dunia. Anaximander adalah bapak
teori evolusi, karena ia tidak mengenal ajaran Islam atau Kristen, tidak pula
mengenal ajaran Hindu. Baginya alam adalah belantara keabadian dalam mana dunia
kita juga berada, tidak ada penciptaan dan pemusnahan, yang ada hanya gerak,
evolusi dan perkembangan abadi, dan dunia yang ada adalah salah satu
perwujudannya.
b. AJARAN
1. BIDANG ASTRONOMI
Menurutnya, dunia kita terletak di
tengah- tengah alam semesta ini: berbentuk seperti silinder, di sekitarnya ada
lingkaran- lingkarang cincin (berwujud seperti selang) yang penuh berisi api,
dan selang- selang itu berlobang-lobang. Lewat lobang inilah kita bisa melihat
api di dalam cincin-cincin tersebut. Itu makanya, bintang-bintang, bulan,
matahari adalah “lobang lewat mana” kita bisa mengetahui adanya cincin-cincin
di langit itu. Yang terpenting dari sistem yang diajukan Anaximandros ini
adalah simetri yang ia ajukan: meskipun fenomen di langit tampak tak beraturan,
ia menemukan adanya keteraturan. Dan lebih dari itu, simetri itu mengijinkan
dirinya menyatakan bahwa dunia kita “tidak bergerak”.
Anaximandros berpendapat bahwa bumi
kita tepat berada di tengah-tengah sehingga tidak ada satu alasanpun untuk
menjelaskan mengapa ia bergerak ke satu titik daripada titik lainnya. Sama
seperti seekor keledai yang berada di antara 2 gundukan jerami di arah
berlawanan dengan jarak yang sama, ia akan berhenti, dan mati kelaparan karena
tidak pernah memilih arah mana yang mau diambil.
Kematian keledai dan immobilitas
bumi kita diterangkan dengan sebuah prinsip yang sekarang kita kenal sebagai
prinsip kecukupan rasio (principe of sufficient reason) :
-
Jika tidak ada alasan bahwa X muncul
(terjadi) daripada Y (jika tidak ada alasan aku mengambil jalan lurus atau
mengambil putaran di depan)
-
Jika tidak mungkin bahwa X dan Y
muncul (terjadi) bersama-sama (jika tidak mungkin untuk berjalan lurus dan
berbelok sekaligus)
-
Maka kesimpulannya: baik X maupun Y
tidak ada (maka aku tdk jalan lurus dan tidak berbelok, aku diam!)
Prinsip abstrak ini yang kemudian
diterapkan Anaximandros kepada astronomi untuk mengatakan bahwa bumi kita diam.
2.
ASAL MULA MANUSIA
Anaximandros mengatakan bahwa tidak
mungkin manusia pertama timbul dari air dalam rupa anak bayi. Orang sering mengatakan bahwa
Anaximandros menjadi pendahulu teori evolusi spesies-spesies . Berhadapan
dengan ragam kehidupan di dunia, ia mencoba mencari dari mana asal-usul
semuanya, dan terutama dari mana
manusia muncul. Barangkali, karena pengaruh gurunya, Thales, yang
mengusulkan physis air sebagai dasar kehidupan, ia lalu mengusulkan bahwa
asal-usul mereka adalah daerah lembab . Lalu bagaimana bisa muncul
kuda, kambing, yang semuanya tidak terlalu dekat hidupnya dengan hal-hal
lembab ? Maka dibuatlah spekulasi bahwa dulu-dulunya semua berasal dari
ikan atau semacam ikan yang dilindungi oleh cangkang. Tentang manusia ?
Manusia adalah satu-satunya binatang yang menyusui dalam periode lama untuk akhirnya
bisa makan sendiri. Jika demikian, maka manusia pertama pasti tidak demikian,
karena jika begitu ia akan cepat mati. Maka diusulkan bahwa manusia pertama
dikandung cukup lama dalam binantang semacam ikan, sampai kemudian keluar
darinya. Dan baru setelah itu ia bisa berkembang biak sendiri.
3.
PHYSIS ITU BERNAMA APEIRON
Seperti juga gurunya, Anaximandros
mencari asal dari segalanya. Ia tidak menerima begitu saja apa yang diajarkan
gurunya. Yang dapat diterima akalnya ialah bahwa yang asal itu satu, tidak
banyak. Tetapi yang satu itu bukan air. Menurut pendapatnya, barang asal itu
tidak berhingga dan tidak berkeputusan. Ia bekerja selalu dengan tiada henti-
hentinya, sedangkan yang dijadikannya tidak berhingga banyaknya. Jika benar
kejadian itu tidak berhingga, seperti yang lahir kelihatan, maka yang “asal”
itu mestilah tidak berkeputusan.
Yang asal itu, yang menjadi dasar
alam dinamai oleh anaximandros “Apeiron”. Apeiron itu tidak dapat dirupakan,
tak ada persamaannya dengan salah satu barang yang kelihatan di dunia ini.
Segala yang kelihatan itu, yang dapat ditentukan dengan panca indera kita,
adalah barang yang mempunyai akhir, yang berhingga. Segala yang tampak dan
terasa dibatasi oleh lawannya. Yang panas dibatasi oleh yang dingin. Di mana
yang bermula dingin, di sana berakhir yang panas. Yang cair dibatasi oleh yang
beku, yang terang oleh yang gelap. Dan bagaimana yang berbatas itu akan dapat
memberikan sifat kepada yang tidak berkepunyaan?
Simplicius mengatakan bahwa
Anaximandros berbicara tentang proses menjadi dan hilangnya alam semesta.
Menurutnya, semua terjadi menurut tatatan waktunya : artinya,
secara teratur, segala hal yang muncul pada waktunya akan dibalas/ditebus.
Tanaman tumbuh dan berkembang dari tanah dengan mengambil unsur-unsur dari dalam
tanah. Pada waktunya, tanaman akan mati, membusuk dan materinya dikembalikan
lagi menjadi tanah. Saat tanaman tumbuh, ia melakukan ketidakadilan kepada
tanah karena ia menyerap unsur-unsurnya untuk kehidupannya. Tanaman
mencuri apa-apa yang diperlukannya dari tanah. Namun, sekali
tanaman itu mati dan membusuk, ia menebus (membalas) ketidak adilan yang ia
lakukan dengan menjadi unsur-unsur bagi tanah. Hujan jatuh dari udara, lalu air
hujan akan diuapkan oleh panas matahari, dan ia akan kembali menjadi udara
lagi. Hujan (air) mengambil substansi airnya dari udara, ia
mencurinya dari udara. Setelah jatuh, ia akan diuapkan
untuk menebus kembali udara. Semua kemunculan dan hilangnya
segala sesuatu terjadi menurut aturan yang sudah ditatankan dalam waktu.
Simplicius juga berbicara tentang
sebuah physis bernama ketakterbatasan (apeiron) sebagai asal dan akhir
segala sesuatu. Sama seperti Thales gurunya, Anaximandros juga menemukan satu
prinsip : ketakterbatasan. Apeiron ini tidak sama dengan salah satu
dari berbagai unsur yang menyusun dunia kita yang kelihatan ini. Alasannya
sederhana : karena semua materi yang kita kenal derajatnya sejajar (air
menjadi udara, udara menjadi air ; kayu menjadi tanah, tanah menjadi
kayu). Tak satu pun unsur dasariah dunia inderawi ini memiliki primasi
dibandingkan unsur lain sehingga tidak bisa dikatakan menjadi prinsip.
Prinsip itulah yang memunculkan alam
semesta ini berkat sebuah gerak abadi (mengapa harus abadi
gerakan ini ? ya karena gerakan inilah yang memunculkan alam semesta,
kalau gerakan ini digerakkan oleh sesuatu , artinya kita harus
mencari sesuatu yang menggerakkan itu, dan seterusnya tanpa
henti. Awal segala sesuatu akhirnya sulit diterangkan. Itu makanya,
dipostulatkan – dinyatakan – bahwa gerak ini abadi ).
Gerakan inilah yang memunculkan
semua langi-langit dan dunia-dunia yang ada di dalamnya”, dan ia tidak
pernah berhenti. Gerakan ini terus menerus memunculkan sesuatu . Dan
untuk bisa memunculkan itu, gerakan ini butuh sebuah materi . Karena
“materi” yang dibutuhkan akan digerakkan terus untuk senantiasa memunculkan
sesuatu, maka “materi” itu haruslah sesuatu yang “tak bisa habis, tak
terbatas”.
-
Dari “materi dasar” (prinsip) ini
lalu muncul: langit-langit dan semua “elemen” yang ada di dunia. Dari situ baru
muncullah apa-apa yang kita kenali di dunia ini. Dan semua itu masih
dikendalikan oleh gerak abadi tersebut sehingga muncullah sebah
SIKLUS teratur kejadian-kejadian yang semuanya taat pada tatanan waktu.
- Ini semua adalah tafsir yang
belum tentu benar (mengingat sekalilagi minimnya teks, dan sumber yang kita
gunakan adalah sumber-sumber yang jauh setelah kehidupan
Anaximandros sendiri)
C. Pemikiran Anaximandros
1. To Apeiron Sebagai
Prinsip Dasar Segala Sesuatu
Meskipun
Anaximandros merupakan murid Thales, namun ia menjadi terkenal justru karena
mengkritik pandangan gurunya mengenai air sebagai prinsip dasar (arche)
segala sesuatu. Menurutnya, bila air merupakan prinsip dasar segala sesuatu,
maka seharusnya air terdapat di dalam segala sesuatu, dan tidak ada lagi zat
yang berlawanan dengannya. Namun kenyataannya, air dan api saling berlawanan
sehingga air bukanlah zat yang ada di dalam segala sesuatu.Karena itu,
Anaximandros berpendapat bahwa tidak mungkin mencari prinsip dasar tersebut
dari zat yang empiris. Prinsip dasar itu haruslah pada sesuatu yang lebih
mendalam dan tidak dapat diamati oleh panca indera. Anaximandros mengatakan
bahwa prinsip dasar segala sesuatu adalah to apeiron. To
apeiron berasal dari a=tidak dan
eras=bataIa merupakan suatu prinsip abstrak yang menjadi prinsip dasar segala
sesuatu. Ia bersifat ilahi, abadi, tak terubahkan, dan meliputi
segala sesuatu. Dari prinsip inilah berasal segala sesuatu yang ada di dalam
jagad raya sebagai unsur-unsur yang berlawanan (yang panas dan dingin, yang
kering dan yang basah, malam dan terang). Kemudian kepada prinsip ini juga
semua pada akhirnya akan kembali.
Menurut
anaximandros, Aperion itu tidak dapat dirupakan, tidak ada persamaannya dengan
salah satu barang yang kelihatan di dunia ini, sebab segala yang kelihatan itu,
yang dapat ditentukan rupanya dengan pancaindra kita adalah barang yang
mempunyai akhir yang berhingga.
Oleh sebab itu,
Aperion adalah barang yang asal, yang tidak berhingga dan tiada berkeputusan
itu mustahil bagi salah satu dari barang yang berakhir itu. Segala yang tampak
dan terasa di batasi oloh lawannya. Yang panas dibatasi oleh yang dingin.
Dimana bermula yang dingin, disana berakhir yang panas. Yang cair dibatasi yang
beku. Yang terang dibatasi oleh yang gelap. Bagaimana yang terbatas itu dapat
memberikan sifat kepada yang tidak berkeputusan?
Segala yang
tampak dan terasa itu, segala yang dapat ditentukan rupanya dengan pancaindra
kita, semuanya mempunyai akhir. Ia timbul (jadi), hidup, dan lenyap. Segala
yang berakhir berada dalam kejadian senantisa, yaitu dalam keadaan berpisah
dari yang satu dengan yang lain. Yang
cair menjadi beku, dan sebaliknya. Yang panas menjadi dingin, dan sebaliknya.
Semua itu terjadi dari Apeiron, dan kembali pula ke Apeiron. Oleh karena itu,
Apeiron itu bersifat ilahi, abadi tak terubahka dan meliputi segala-galanya.
Kemudian,
anaximandreos menerapkan bagaimana dari Apeiron timbul alam semesta. Bermula
dari apeiron, keluarlah yang panas dan yang dingin. Yang panas membalut yang
dingin sehingga yang dingin itu terkandung di dalamnya. Dari yang dingin itu
terjadilah yang cair dan yang beku inilah kemudian menjadi bumi. Api yang
membalut yang dingin itu kemudian terpecah-pecah pula, dan pecahan-pecahan itu
berputar-putar, dan kemudian terpisah, maka terjadilah matahari, bulan, dan
bintang-bintang.
Yang asal itu yang
menjadi dasar alam dinamai oleh Anaximandros “Apeiron”. Apeiron itu tidak dapat
dirupakan. Tak ada persamaanya, dengan salah satu barang yang kelihatan di
dunia ini. Segala yang kelihatan itu yang dapat di tentukan rupanya dengan
pancaindera kita, adalah barang yang mempunyai akhir, yang berhingga. Anaximandros
mengatakan bahwa dasar utama adalah zat yang tak tertentu sufat-sifanya, yang
dinamainya Apeiron. Menurut dia prinsip terakhir itu adalah Apeiron: “yang tak
terbatas” (peras=batas). Apeiron itu bersifat ilahi, abadi, tak terubahkan dan
meliputi segala-galanya. Kesimpulan filsafat itu antara lain: filsafat alam ,
yang asal itu tidak berhingga dan tidak berkeputusan, yang asal sebagai dasar
alam menurut Anaximandros disebut “Apeiron”. Anaximandros terkenal dengan teori
“ first Principle” (asal yang pertama). Asal yang perama itu dinamakan
“apeiron”, kesimpulan teori ini adalah;
1. dari apeiron itulah timbulnya alam
2. apeiron itu tiada berakhir dan tiada berhenti-hentinya
bekerja, karena yang dijadikan apeiron itu tidak terhingga banyaknya, sebagai
yang kelihatan, sebab itu apeiron harus kekal, tidak berakhir, dan terus
bekerja.
3. segala yang kelihatan itu, yakni yang dapat
ditangkap oleh pancaindera adalah barang yang berakhir(yang mempunyai
batas)sedangkan apeiron tidak.
4.segala yang dapat dilihat dan diraba itu
selalu dalam perubahan dan kejadian. Ia jadi dan hidup, kemudian mati dan
lenyap, sedangkan apeiron tidak.
2. Pandangan tentang Alam Semesta
Dengan prinsip to
apeiron, Anaximandros membangun pandangannya tentang alam semesta. Menurut
Anaximandros, dari to apeiron berasal segala sesuatu yang berlawanan,
yang terus berperang satu sama lain. Yang panas membalut yang dingin sehingga
yang dingin itu terkandung di dalamnya. Dari yang dingin itu terjadilah yang
cair dan beku. Yang beku inilah yang kemudian menjadi bumi. Api yang membalut
yang dingin itu kemudian terpecah-pecah pula. Pecahan-pecahan tersebut
berputar-putar kemudian terpisah-pisah sehingga terciptalah matahari, bulan,
dan bintang-bintang. Bumi dikatakan berbentuk silinder, yang lebarnya tiga kali
lebih besar dari tingginya. Bumi tidak jatuh karena kedudukannya berada pada
pusat jagad raya, dengan jarak yang sama dengan semua benda lain. Mengenai
bumi, Thales telah menjelaskan bahwa bumi melayang di atas lautan. Akan tetapi,
perlu dijelaskan pula mengenai asal mula lautan. Anaximandros menyatakan bahwa
bumi pada awalnya dibalut oleh udara yang basah. Karena berputar terus-menerus,
maka berangsur-angsur bumi menjadi kering. Akhirnya, tinggalah udara yang basah
itu sebagai laut pada bumi.
Adapun bumi
pada awalnya dibalut dengan uap yang basah karena berputar terus menerus, yang
basah itu secara berangsur-angsur, menjad kering, akhirnya tinggallah sisa uap
yang basah itu sebagai laut pada bumi.
Sebagai
filosof, ia mempunyai pandangan bahwa alam adalah satu, tetapi prinsip dasar
tentang alam tersebut bukan dari jenis benda alam seperti air sebagaimana yang
dikatakan gurunya. Prinsip dasar alam berasal dari jenis yang tak terhitung dan
tak terbatas, yang di sebutnya apeiron.
Demikianlah
kesimpulan hukum dunia menurut pandangan anaximandros. Disitu tampak
kelebihannya dari pada gurunya. Selagi thales berpendapat bahwa barang yang
asal itu salah satu dari yang lahir, yang tampak, yang berhingga, anaximandros
meletakkannya di luar alam yang memberikan sifat yang tiada berhingga padanya
dengan tiada dapat di serupai.
Meski teori
tentang asal alam tidak begitu jelas, dia adalah seorang yang cakap dan cerdas.
3. Pandangan
tentang Makhluk Hidup
Mengenai
terjadinya makhluk hidup di bumi, Anaximandros berpendapat bahwa pada awalnya
bumi diliputi air semata-mata. Karena itu, makhluk hidup pertama yang ada di
bumi adalah hewan yang hidup dalam air, misalnya makhluk seperti ikan.Karena
panas yang ada di sekitar bumi, ada laut yang mengering dan menjadi daratan.Di
ditulah, mulai ada makhluk-makhluk lain yang naik ke daratan dan mulai
berkembang di darat. Ia berargumentasi bahwa tidak mungkin manusia yang menjadi
makhluk pertama yang hidup di darat sebab bayi manusia memerlukan asuhan orang
lain pada fase awal kehidupannya. Karena itu, pastilah makhluk pertama yang
naik ke darat adalah sejenis ikan yang beradaptasi di daratan dan kemudian
menjadi manusia.
Mengenai
terjadinya makhluk dibumi, anaximandros menerangkan bahawa atas pengaruh yang
panas tersebut, dari uap yang basah dibumi itu terjadilah makhluk-makhluk
hidup, yang kemudian secara bertingkat-tingkat mengalami kemajuan dalam
hidupnya. Pada mulanya, bumi ini diliputi oleh air semata-mata. Oleh sebab itu,
makhluk yang pertama diatas bumi ialah hewan yang hidup didalam air seperti
ikan. Akan tetapi, setelah tanah semakin kering, timbullah daratan maka makhluk
yang lain mulai berkembang diatas daratan.
Mengenai
manusia, anaximandros mengatakan bahwa dari binatang yang berupa ikan tulah
terjadi manusia yang pertama. Manusia bermula tidak bsa serupa dengan manusia
sekarang, sebab orang yang dilahirkan dalam bentuk bayi sekarang memerlukan
asuhan orag lan. Makhluk seperti itu tidak bisa hidup pada permulaan
penghidupan diatas dunia ini. Satu-satunya yang bisa menolong dirinya
sendirisejak lahir hanyalah binatang berupa ikan.
Anaximandros mengatakan bahwa segala hal berasal dari subtansi
asali, namun subtansi itu bukan air seperti yang di yakini thales,atau subtansi
lain manapun yang kita ketahui. Substansi itu tidak terbatas, abadi dan tidak
mengenal usia, dan “ia melingkupi seluruh dunia-dunia “ sebab Anaximandros
beranggapan bahwa dunia kita ini hanyalah salah satu dari banyak dunia.
Subtansi asali itu diubah menjadi berbagai subtansi yang kita kenal, da
subtansi-subtansi itu saling
ditransformasikan menjadi substansi yang satu atau yang lain. Mengenai hal ini,
ia mengutarakan pernyatan penting dan
perlu di simak :
“ untuk menjadi sesuatu yang darinya segala sesuatu lainnya
meningkatkan diri, substansi-substansi itu harus musnah sekali lagi,
sebagaimana sudah di takdirkan, sehingga bisa menyempurkan dan memuaskan satu
sama lain berdasarkan ketidak adilannya, sesuai dengan pengaturan waktu. ”
Gagasan tentang keadilan, baik yang sifatnya kosmis maupun
manusiawi ,memainkan peranan dalam agama dan filsafat yunani yang tidak sepenuhnya mudah dipahami
oleh orang modern;bahkan istilah “keadilan” yang kita pakai nyaris tak mampu mengungkapkan
maksudnya, tetapi sukar untuk menemukan kata lainnya yang lebih memadai .
pemikiran yang diungkapkan anaximandros
kurang lebih demikian : mestinya ada api, tanah, dan air dalam takaran
tertentu di dunia, namun masing-masing unsur itu(yang dikonsepsikan sebagai
dewa) terus-menerus berupaya memperbesar kerajaannya sendiri. Tetapi ada
semacam peniscayaan atau hokum alam yang senan tiasa mengembalikan
keseimbangan; jikalau telah ada api, umpamanya, tentu ada abu, yang tak lain
adalah tanah. Konsepsi tentang keadilan yakni tidak dilampauinya batas-batas
tertentu yang abadi adalah salah satu keyakinan orang yunani yang paling
mendalam. Dewa-dewa, pun tunduk pada keadilan persis sebagaimana manusia namun
kekuatan agung itu pada dirinya sendiri tidak bersifat personal, dan bukan pula
tuhan yang maha kuasa.
Anaximandros memiliki argument untuk membuktikan bahwa substansi
asali itu bukan air, atau unsur lain manapun yang dikendali. Jika salah satu
substansi itubersifat asali maka maka substansi itu akan mengalahkan yang lain.
Menurut aristoteles anaximandros mengatakan bahwa unsur-unsur yang telah
dikenal itu saling beroposisi. Udara bersifat dingin air basah dan api
panas.”dan karena itu, jikasalah satu substansi itu asali, substansi lain tentu
sudah punah saat ini “.substansi asali,dengan demikian, harus bersifat netral
ditengah perselisihan kosmes ini .
Berlangsung pula suatu gerak abadi, yang dalam proses itumuncullah
asal usul dunia-dunia, dunia itu tidak diciptakan, seprti dalam teologi yahudi
atau Kristen, namun lahir karena evolusi. Dalam dunia binatang pun terjadi
evolusi. Mahluk hidup muncul dari unsur bahasa yang kemudian menguap karena
matahari. Manusia, sebagai mana binatang lain berasal dari ikan. Menusia pasti
berasal dari jenis binatang yang berbeda karena mengingat masa bainya yang
berlangsung lama, sejak semula ia tentu tak akan mampu bertahan hidup seperti
halnya sekarang.
Anaximandros memiliki keingin tauan ilmiah yang besar.ia konon
adalah orang pertama yang membuat peta.ia berpendapat bahwa bumi berbentuk
seperti silinder. Sering dikisahkan pernyataan bahwa ,matahari sama besarnya
dengan bumi, tau dua puluh tuju kali atau dua puluh delapan kali lipat
besarnya.Selain orisinel ,anaximandros berwatak ilmiah dan rasionalistik.
41.
Asal Mula Kehidupan
Mengenai asal mula
keehidupan, Anaximandder juga menjelaskan evolusi makhluk hidup yang berasal dari lautan yaitu ikan.
Pemikiran ini didasarkan pada bahwa tidaak mungkin seorang manusia adalah makhluk pertama yang
hidup karena manusia memerlukan
pengasuhan pada awal kelahirannya. Oleh karena itu Anaximander mempercayai
bahwa makhluk hidup pertama adalah
ikan yang kemudian naik ke daratan. Dan kemudian mengalami proses yang pada akhirnya berevolusi menjadi manusia.
Disini Anaximander
menjelaskan bahwa bumi awalnya berupa lautan,oleh karena itu makhluk yang hidup
disana adalah ikan. Karena panas matahari, sebagain dari bumi mongering dan
menjadi daratan. Makhluk hidup ini kemudian berpindah ke daratan dan lambat
laun mengalami perubahan hingga menjadi sosok manusia yang sempurna. Tentu saja
bagi kita pemikiran ini terasa amat ganjil, namun yang patut kita apresiasi
adalah bagaimana ia bisa memikirkan hal
demikian. Filsuf alam menitikberatakan pada apa yang ia amati disekitar
lingkungannya. Anaximander pun sama, dengan berbagai penjelajahan yang ia
lakukan, ia pun menyadari bahwa lautan di bumi ini luas sehingga pastilah
dulunya bumi berupa lautan. Dan pengamatannya terhadap pertumbuhan dan
perkembangan manusia membuatnya menarik kesimpulan bahwa bukan manusia yang
menjadi makhluk pertama atau asal dari kehidupan ini, karena ketergantungan
manusia terhadap manusia lainnya.
5.
Bidang Meteorologi
Anaximander juga
termasuk orang yang kritis menanggapi hal-hal yang berhubungan dengan mitos,
pengetahuan kuno, surga bahkan dewa-dewi Yunani. Seperti yang kita ketahui
bahwa Yunani amat kental dengan mitologi dewa-dewinya. Namun disini
Anaximander mempertanyakan semua
hal-hal yang berkaitan dengan kisah-kisah mitologi apalagi yang berkaitan
dengan alam.
Seperti halnya pada
bidang meteorology. Anaximander menyatakan
bahwa petir bukanlah disebabkan oleh Zeus sang raja para dewa yang
mengarahkan trisulanya atau tongkat petirnya, tapi karena pneuma atau udara
yang memadat.
Selain itu Anaximander
juga menjelaskan bahwa hujan berasal dari uap yang dibawa ke atas tepat dibawah
matahari. Bukan karena hal-hal
yang berhubungan dengan mitologi
dan kekuatan dewa. Namun memang ada sebab dan prosesnya, dan semua itu juga
terjadi secara natural.
Tulisan Anaximander
mengenai cuaca dan bidang meteorology ini merupakan catatan pertama manusia
yang menjelaskan fenomena cuaca berdasarkan pemikiran rasinonal manusia bukan
dari legenda taupun mitos.

0 komentar:
Posting Komentar